Lampion itu menyala lagi, merahkan langit malam hari...
Petasan itu terbakar lagi, pecahkan sunyi dengan kerasnya bunyi...
Aku terjaga lagi, berlari dari mimpi yang sangat kutakuti...
Aku tersentak lagi, rasakan sakit yang tak terperi...
Pisau belati bapa pencaci menyayat nurani...
Keras meremas hati dengan tangan kasar berlumur benci...
Mati, aku takut setengah mati...
Sendiri dalam ruang hampa penuh api...
Kemana pergi..?
Kenapa pergi..?
Mengapa aku masih di sini..?
Mengapa meninggalkan aku hidup yang telah mati..?
Aku ingin mengangkat gelas melayang tinggi...
Duduk bersama bercerita sebagai seorang lelaki...
Tentang hujan sore hari yang menghapus jejak siang tadi...
Tentang matahari pagi yang mengusir malam pergi...
Namun mimpi hanya akan tetap menjadi mimpi...
Karena yang telah pergi tak akan kembali...
Karena yang kusesali harus terus kusesali...
Setitik asa berharap Beliau kan mengerti sebagaimana aku mengerti...
Sebesar apapun itu, sesalku tidaklah lagi berarti...