Jangan terlalu jauh menilai, jangan terlalu dalam menyelami hati...
Melihat tak berarti memahami, mendengar tak selalu mengerti...
Yang terlihat tangguh belum tentu mampu teguh berdiri...
Yang terdengar besar terkadang hanyalah buaian senang perancang mimpi...
Tak banyak, tak besar, tak juga tinggi rinduku pada pelangi...
Hanya sedikit harap kelak aku akan memiliki ceritaku sendiri...
Cerita perjalanan panjangku menyusuri sejengkal tanah di bumi...
Cerita saat aku terdampar di ujung semesta yang penuh misteri...
Bukan hanya padamu, bukan pada yang kusakiti atau yang kukasihi...
Tapi kepada setiap orang yang kutemui sampai aku tiba di gerbang abadi...
Saat aku menangis di bawah kaki Yang Maha Suci...
Minggu, 03 Agustus 2014
Senin, 21 Juli 2014
BERISIK MALAM BERTANYA
Siang teramat terang bercahaya dan kubiarkan lampu tetap menyala...
Hilang sinarnya tertutup siang, sungguh tak berguna...
Gahar sumbu membakar minyak hingga tetes terakhir yang tersisa...
Lalu padam menghitam, torehkan kusam mencoreng muka...
Dan malam pun datang menyandang kelam merangkul gelap bersamanya...
Cemasku menyeruak, nafasku sesak menyadari mataku buta tanpa cahaya...
Tak melihat, seperti petapa menutup mata dalam goa di tengah belantara...
Teringat saat angkuh menantang dosa, terlalu jauh meninggalkan perbatasan bijaksana...
Sia-sia....
Salah siapa saat sia-sia menghasilkan sia-sia..?
Bukankah yang menanam bibit sia-sia akan menuai panen sia-sia juga..?
Aku hanya diam saat gelap mulai banyak bicara mulai bercerita dan banyak bertanya...
Aku yang tak menampung air di musim hujan, aku yang menghamburkan waktu di masa muda...
Aku yang berdiri di atas mimbar arogan, aku yang bersembunyi mengabaikan panggilan cinta sederhana...
Aku yang tak berguna, aku yang sia-sia melepas bebas jiwa di tengah rimba dosa...
Terlalu panjang malam ini kurasa, terlalu lemah hatiku untuk memanjatkan doa...
Tapi aku percaya DIA mengerti setiap susah yang ku rasa...
Aku percaya DIA mendengar setiap kata walau aku diam tak berkata...
Hanya aku yang berdosa tak akan tahan mendengar mulia suara-NYA...
Karena aku tak kunjung membersihkan diri untuk layak menerima berkat-NYA...
Rabu, 04 Juni 2014
BEGINI, YA SEPERTI INI
Tetap berdiri, tak peduli apa yang terjadi...
Jangan hindari, tak perlu lah berlari...
Hadapi dengan rendah hati, hadapi dengan berani...
Yang terjadi telah terjadi, yang mati tak akan hidup kembali...
Hidup ini begini, ya seperti ini...
Masalah datang dan pergi, silih berganti seperti matahari mengitari bumi...
Jalani yang harus dijalani, pertahankan kebaikan sampai masalah pergi...
Simpan saja tenaga lemahmu itu, percuma jika SUCI meninggalkanmu sendiri...
Hidup bukan hanya dengan hati, tapi lebih dalam lagi...
Karena semua orang memiliki hati, tapi berapa dari mereka yang memiliki nurani...?
Adakah solusi untuk menghentikan datangnya pagi...?
Siapakah yang menopang langit agar tak runtuh menghancurkan bumi...?
Tenanglah, tetap tenang lalui sunyi di malam hari...
Berjagalah, jaga hati dari polusi pembunuh nurani...
Hidup tak akan pernah pasti, hanya mati yang sudah pasti...
Tetapi, kemanakah kita pergi setelah kita mati nanti...?
Jangan hindari, tak perlu lah berlari...
Hadapi dengan rendah hati, hadapi dengan berani...
Yang terjadi telah terjadi, yang mati tak akan hidup kembali...
Hidup ini begini, ya seperti ini...
Masalah datang dan pergi, silih berganti seperti matahari mengitari bumi...
Jalani yang harus dijalani, pertahankan kebaikan sampai masalah pergi...
Simpan saja tenaga lemahmu itu, percuma jika SUCI meninggalkanmu sendiri...
Hidup bukan hanya dengan hati, tapi lebih dalam lagi...
Karena semua orang memiliki hati, tapi berapa dari mereka yang memiliki nurani...?
Adakah solusi untuk menghentikan datangnya pagi...?
Siapakah yang menopang langit agar tak runtuh menghancurkan bumi...?
Tenanglah, tetap tenang lalui sunyi di malam hari...
Berjagalah, jaga hati dari polusi pembunuh nurani...
Hidup tak akan pernah pasti, hanya mati yang sudah pasti...
Tetapi, kemanakah kita pergi setelah kita mati nanti...?
Sabtu, 31 Mei 2014
J E J A K B E R D E B U
Butuh mesin waktu, ingin kembali ke masa lalu...
Enam tahun lalu, saat kutinggalkan jejak-jejak kaki di atas tumpukan abu...
Jejak berdebu telah mengotori kaki tak bersepatu...
Jejak berdebu nodai hati dengan seribu tabu...
Beri aku kunci, izinkan aku kembali...
Beri aku 30 hari, kuperbaiki 30 tahun nanti...
Kan kuhapus tiap jejak kaki dengan tetesan madu...
Kan kubasuh hati yang penuh debu dengan gumpalan salju...
Tak baik memang terpaku, tetapi aku tetap terpaku...
Yang bijak akan mengubur masa lalu, tapi aku menggali penyesalanku...
Hatiku tertutup debu, debu yang mulai membatu...
Otakku semakin beku, adakah pertanda ragaku akan kaku...?
Hujan ini tak segera berhenti, pelangi tak akan cepat kembali...
Awan sembunyikan matahari, lambangkan suci terkurung di balik benci...
Jejak berdebu masih disitu, masih tinggalkan warna kelabu...
Jejak berdebu memburu waktu, akankah jejak baru mampu membunuh hantu...?
Enam tahun lalu, saat kutinggalkan jejak-jejak kaki di atas tumpukan abu...
Jejak berdebu telah mengotori kaki tak bersepatu...
Jejak berdebu nodai hati dengan seribu tabu...
Beri aku kunci, izinkan aku kembali...
Beri aku 30 hari, kuperbaiki 30 tahun nanti...
Kan kuhapus tiap jejak kaki dengan tetesan madu...
Kan kubasuh hati yang penuh debu dengan gumpalan salju...
Tak baik memang terpaku, tetapi aku tetap terpaku...
Yang bijak akan mengubur masa lalu, tapi aku menggali penyesalanku...
Hatiku tertutup debu, debu yang mulai membatu...
Otakku semakin beku, adakah pertanda ragaku akan kaku...?
Hujan ini tak segera berhenti, pelangi tak akan cepat kembali...
Awan sembunyikan matahari, lambangkan suci terkurung di balik benci...
Jejak berdebu masih disitu, masih tinggalkan warna kelabu...
Jejak berdebu memburu waktu, akankah jejak baru mampu membunuh hantu...?
Senin, 26 Mei 2014
R I N D U T E N A N G
Mataku nyalang, memandang nanar jiwaku yang liar...
Liar, seliar tarian perempuan jalang di atas ranjang usang...
Otakku yang lapar mengerang sumbang muntahkan lahar cemar...
Cemar yang mengotori ruang tenang yang telah lama hilang...
Buang jauh, lemparkan di antara ratusan bintang...
Kosongkan, enyahkan, hitamkan angan sehitam langit malam...
Hanya dalam hitam tak terlihat bayang...
Hanya dalam hitam tersembunyi muram...
Mengapa tak pernah terbuang...?
Mengapa selalu kembali datang...?
Aku ingin tenang...
Aku hanya ingin tenang...
Darah pecundang tak akan pernah menetes di ujung pedang musuhnya...
Mayat pecundang tak akan pernah ditemukan tergolek di medan perang...
Karena pecundang memilih mati dalam rumahnya...
Karena pecundang tak pernah pergi berperang...
Aku tak butuh menang, tapi janganlah jadikan aku pecundang...
Biarlah aku mati dalam perang jika itulah tenang...
Karena aku hanya ingin tenang...
Ingin tenang....
BOLEHKAH....?
Liar, seliar tarian perempuan jalang di atas ranjang usang...
Otakku yang lapar mengerang sumbang muntahkan lahar cemar...
Cemar yang mengotori ruang tenang yang telah lama hilang...
Buang jauh, lemparkan di antara ratusan bintang...
Kosongkan, enyahkan, hitamkan angan sehitam langit malam...
Hanya dalam hitam tak terlihat bayang...
Hanya dalam hitam tersembunyi muram...
Mengapa tak pernah terbuang...?
Mengapa selalu kembali datang...?
Aku ingin tenang...
Aku hanya ingin tenang...
Darah pecundang tak akan pernah menetes di ujung pedang musuhnya...
Mayat pecundang tak akan pernah ditemukan tergolek di medan perang...
Karena pecundang memilih mati dalam rumahnya...
Karena pecundang tak pernah pergi berperang...
Aku tak butuh menang, tapi janganlah jadikan aku pecundang...
Biarlah aku mati dalam perang jika itulah tenang...
Karena aku hanya ingin tenang...
Ingin tenang....
BOLEHKAH....?
Senin, 28 April 2014
Bendera Putih
Susah hati tak terucap, sedih jiwa tak terungkap...
Mimpi telah pergi menjauhi harap, tak pasti telah datang menyergap...
Ingin lelap, benamkan diri di tengah pasir hisap...
Biarkan mengendap, biar lenyap...
Ingin menyelam ke dasar samudera menuju neraka...
Agar tak lagi terlihat, mata yang meneteskan air mata...
Agar air mata tak lagi membasahi pipi para pendoa...
Agar mata tak perlu lagi terbuka, selamanya...
Aku tak mau, jangan paksa aku kibarkan bendera...
Putih...
Aku tak ingin mengangkat bendera...
Putih...
Aku tak ingin merubah warna bendera...
Menjadi putih...
Bendera putih...
Tak berarti bersih, tak melambangkan suci, hanyalah mati...
Bendera putih...
Lahirkan benci, injak harga diri, matikan arti lelaki...
Bendera putih...
Tanda menyerah yang tak gagah, lambang pasrah lelaki lemah...
Bendera putih...
Menyulut amarah lelaki yang memilih mati bersimbah darah...
Bendera putih...
Mati...
Bendera putih...
Pergi...
Bendera putih tak mau pergi...
Bendera putih terangkat tinggi...
Berkibar di dalam hati...
Lelaki mati...
Mimpi telah pergi menjauhi harap, tak pasti telah datang menyergap...
Ingin lelap, benamkan diri di tengah pasir hisap...
Biarkan mengendap, biar lenyap...
Ingin menyelam ke dasar samudera menuju neraka...
Agar tak lagi terlihat, mata yang meneteskan air mata...
Agar air mata tak lagi membasahi pipi para pendoa...
Agar mata tak perlu lagi terbuka, selamanya...
Aku tak mau, jangan paksa aku kibarkan bendera...
Putih...
Aku tak ingin mengangkat bendera...
Putih...
Aku tak ingin merubah warna bendera...
Menjadi putih...
Bendera putih...
Tak berarti bersih, tak melambangkan suci, hanyalah mati...
Bendera putih...
Lahirkan benci, injak harga diri, matikan arti lelaki...
Bendera putih...
Tanda menyerah yang tak gagah, lambang pasrah lelaki lemah...
Bendera putih...
Menyulut amarah lelaki yang memilih mati bersimbah darah...
Bendera putih...
Mati...
Bendera putih...
Pergi...
Bendera putih tak mau pergi...
Bendera putih terangkat tinggi...
Berkibar di dalam hati...
Lelaki mati...
Selasa, 22 April 2014
B I N T A N G
Kala malam aku mengintip dari balik jendela...
Sambil berbaring aku melihatmu mengedipkan mata...
Tenang, sejenak tenang mengisi ruang gelap kamar sederhana...
Nyaman, sesaat nyaman mengalun di sela celetuk doa para serangga...
Kamu berkata, tidurlah, aku akan berjaga sampai nanti pagi tiba...
Namun enggan mataku berpaling dari pesonamu yang bercahaya...
Kamu berkata, rehatlah, cukupkan hari ini sampai di sini saja...
Namun anganku melayang jauh menembusi dinding kelam jagat raya...
Bintang....
Taukah kamu aku menyukaimu sekaligus iri kepadamu..?
Taukah kamu aku tak menyapamu karena aku cemburu..?
Taukah kamu kalau aku ingin seperti kamu..?
Tak perlu berfikir, kamu tak pernah khawatir...
Tak punya ingin, kamu tak pernah merasakan getir...
Tak dituntut sempurna, kamu tak mengenal dosa...
Sedari awal menghias langit semesta, kamu tak pernah kenal air mata...
Bintang....
Ajak aku terbang...
Ajarkan aku menjadi bintang...
Aku ingin melayang dan tak ingin pulang.....
Sambil berbaring aku melihatmu mengedipkan mata...
Tenang, sejenak tenang mengisi ruang gelap kamar sederhana...
Nyaman, sesaat nyaman mengalun di sela celetuk doa para serangga...
Kamu berkata, tidurlah, aku akan berjaga sampai nanti pagi tiba...
Namun enggan mataku berpaling dari pesonamu yang bercahaya...
Kamu berkata, rehatlah, cukupkan hari ini sampai di sini saja...
Namun anganku melayang jauh menembusi dinding kelam jagat raya...
Bintang....
Taukah kamu aku menyukaimu sekaligus iri kepadamu..?
Taukah kamu aku tak menyapamu karena aku cemburu..?
Taukah kamu kalau aku ingin seperti kamu..?
Tak perlu berfikir, kamu tak pernah khawatir...
Tak punya ingin, kamu tak pernah merasakan getir...
Tak dituntut sempurna, kamu tak mengenal dosa...
Sedari awal menghias langit semesta, kamu tak pernah kenal air mata...
Bintang....
Ajak aku terbang...
Ajarkan aku menjadi bintang...
Aku ingin melayang dan tak ingin pulang.....
Minggu, 20 April 2014
J I K A
Jika nanti aku menyerah, bukanlah karena aku putus asa...
Hanya saja lelah yang mendekap erat telah memberiku tanda...
Cukuplah waktu bagiku mencoba, tak baik bagiku memaksa...
Dan aku akan tetap berjalan, walau kelak aku menjalani jalan yang berbeda...
Jika nanti aku berhenti, bukan karena aku takut untuk terus melangkah...
Tapi karena realita telah memberiku titah untuk menerima nyata...
Mungkin semangatku akan surut, tapi pelita hatiku tak akan sirna...
Seperti bintang yang tak pernah berhenti bercahaya walau saat tak terlihat mata...
Aku percaya bintang itu tetap ada di sana, tetap bercahaya di angkasa...
Aku percaya, dan hanya akan tetap percaya, bahwa percayaku tak akan sia-sia...
Hanya saja lelah yang mendekap erat telah memberiku tanda...
Cukuplah waktu bagiku mencoba, tak baik bagiku memaksa...
Dan aku akan tetap berjalan, walau kelak aku menjalani jalan yang berbeda...
Jika nanti aku berhenti, bukan karena aku takut untuk terus melangkah...
Tapi karena realita telah memberiku titah untuk menerima nyata...
Mungkin semangatku akan surut, tapi pelita hatiku tak akan sirna...
Seperti bintang yang tak pernah berhenti bercahaya walau saat tak terlihat mata...
Aku percaya bintang itu tetap ada di sana, tetap bercahaya di angkasa...
Aku percaya, dan hanya akan tetap percaya, bahwa percayaku tak akan sia-sia...
Kamis, 03 April 2014
Setia dan Kesempatan Ke-2
Seharusnya setia tetap dan selalu menjadi harga mati, seperti pelaku korupsi yg seharusnya di hukum mati.
Bukan aku tak percaya akan hal baik dari kesempatan kedua, tapi bicara tentang orang yg tidak setia, logikaku tertuju pada seorang pencuri. Bukankah hanya saat pertama kali beraksi si pencuri akan merasa takut dan cemas dalam hatinya..? Selanjutnya ia akan terbiasa bahkan sebagian mereka menjadikannya profesi atau menganggapnya hobi dengan alasan mengidap suatu penyakit yg mereka sebut klepto, bukan..?
Menurutku, kalaupun ingin memberi kesempatan kedua, haruslah diberikan dengan persyaratan dan pengawasan yg ketat sebagai hukuman menjelang lahirnya bukti dari rahim sang waktu. Namun yg jadi pertanyaan dalam otakku adalah, Nyamankah hidupnya yg seperti itu..? Siapkah kita menghabiskan hidup yg hanya sebentar ini bersama besarnya rasa curiga..? Sungguhkah ada tulus dalam maaf dan benar2 melupakan kesalahannya..?
Memang sebagian manusia kadang keras kepala dan cenderung bodoh karena harus terluka agar tau sakitnya luka, seperti pengendara yg tak peduli bahaya dan enggan berhati2 sebelum mengalami celaka.
Tapi lihatlah betapa bahagianya mereka yg tak perlu terluka untuk mengetahui sakitnya luka, karena mereka percaya bahwa yg menyakiti akan disakiti dan mereka yg tetap disakiti walau tak pernah menyakiti akan segera mendapat ganti yg jauh lebih baik tanpa sempat mereka meratap dan mengeluhkan yg terjadi.
Ini hanyalah opini salah seorang dari sekian banyak orang yg bodoh dan keras kepala itu, yg berharap menjadi orang bodoh yg terakhir di muka bumi agar tak lagi ada kata menyakiti dan disakiti.
Sesungguhnya nafsu selalu ada, tapi cinta tak selalu ada, karena sebagian besar kata cinta hanyalah bualan belaka, yg membuai dalam kehangatan selimut dusta.
Hati tercipta untuk merasa, logika ada untuk dibuka, maka manusia akan sadar bahwa tak ada cinta dalam diri orang yg tak peduli, tak mengerti, dan meremehkan rasa sakit hati.
Bukan aku tak percaya akan hal baik dari kesempatan kedua, tapi bicara tentang orang yg tidak setia, logikaku tertuju pada seorang pencuri. Bukankah hanya saat pertama kali beraksi si pencuri akan merasa takut dan cemas dalam hatinya..? Selanjutnya ia akan terbiasa bahkan sebagian mereka menjadikannya profesi atau menganggapnya hobi dengan alasan mengidap suatu penyakit yg mereka sebut klepto, bukan..?
Menurutku, kalaupun ingin memberi kesempatan kedua, haruslah diberikan dengan persyaratan dan pengawasan yg ketat sebagai hukuman menjelang lahirnya bukti dari rahim sang waktu. Namun yg jadi pertanyaan dalam otakku adalah, Nyamankah hidupnya yg seperti itu..? Siapkah kita menghabiskan hidup yg hanya sebentar ini bersama besarnya rasa curiga..? Sungguhkah ada tulus dalam maaf dan benar2 melupakan kesalahannya..?
Memang sebagian manusia kadang keras kepala dan cenderung bodoh karena harus terluka agar tau sakitnya luka, seperti pengendara yg tak peduli bahaya dan enggan berhati2 sebelum mengalami celaka.
Tapi lihatlah betapa bahagianya mereka yg tak perlu terluka untuk mengetahui sakitnya luka, karena mereka percaya bahwa yg menyakiti akan disakiti dan mereka yg tetap disakiti walau tak pernah menyakiti akan segera mendapat ganti yg jauh lebih baik tanpa sempat mereka meratap dan mengeluhkan yg terjadi.
Ini hanyalah opini salah seorang dari sekian banyak orang yg bodoh dan keras kepala itu, yg berharap menjadi orang bodoh yg terakhir di muka bumi agar tak lagi ada kata menyakiti dan disakiti.
Sesungguhnya nafsu selalu ada, tapi cinta tak selalu ada, karena sebagian besar kata cinta hanyalah bualan belaka, yg membuai dalam kehangatan selimut dusta.
Hati tercipta untuk merasa, logika ada untuk dibuka, maka manusia akan sadar bahwa tak ada cinta dalam diri orang yg tak peduli, tak mengerti, dan meremehkan rasa sakit hati.
Minggu, 30 Maret 2014
Raut Pahit
Hati manusia sangat lembut, namun air matanya terasa pahit...
Seperti danau yang tertutup kabut saat terang masih tergantung di langit...
Seperti anak kecil yang penakut, seperti orang tua yang rentan terhadap penyakit...
Tak mengerti hatinya menjadi kalut, diberi arti akalnya tergesa menyempit...
Bergunakah batangan pensil yang tak pernah diserut...?
Tak bergunakah matahari yang berbagi cahaya setiap kali ia terbit...?
Tidak terlihat menawankah sunset yang perlahan menghilang di penghujung laut...?
Lebih cantikkah goresan kuas para maestro yang melahirkan karyanya di atas bukit...?
Dengarlah bisik malaikat yang tak pernah surut walau iblis menjerit sengit...
Janganlah melihat purnama yg merengut, tapi lihatlah senyum pada bulan sabit...
Agar nyali tak menciut, agar jiwa tak terhimpit...
Karena putih selalu ingin menurut, namun hitam terlalu mudah menyerah kepada sulit...
Mungkin hidup memang tak pernah jauh dari maut...
Namun hidup juga tak pernah terlalu dekat dengan rumit...
Kiranya manusia tak membiarkan lembut pada hatinya direnggut...
Kiranya akal manusia tidak sempit, tentulah air matanya tidak akan terasa pahit...
Seperti danau yang tertutup kabut saat terang masih tergantung di langit...
Seperti anak kecil yang penakut, seperti orang tua yang rentan terhadap penyakit...
Tak mengerti hatinya menjadi kalut, diberi arti akalnya tergesa menyempit...
Bergunakah batangan pensil yang tak pernah diserut...?
Tak bergunakah matahari yang berbagi cahaya setiap kali ia terbit...?
Tidak terlihat menawankah sunset yang perlahan menghilang di penghujung laut...?
Lebih cantikkah goresan kuas para maestro yang melahirkan karyanya di atas bukit...?
Dengarlah bisik malaikat yang tak pernah surut walau iblis menjerit sengit...
Janganlah melihat purnama yg merengut, tapi lihatlah senyum pada bulan sabit...
Agar nyali tak menciut, agar jiwa tak terhimpit...
Karena putih selalu ingin menurut, namun hitam terlalu mudah menyerah kepada sulit...
Mungkin hidup memang tak pernah jauh dari maut...
Namun hidup juga tak pernah terlalu dekat dengan rumit...
Kiranya manusia tak membiarkan lembut pada hatinya direnggut...
Kiranya akal manusia tidak sempit, tentulah air matanya tidak akan terasa pahit...
Jumat, 14 Maret 2014
A L A S A N
Saat nyali kehilangan keberanian...
Saat kekuatan digantikan oleh rentan...
Dan saat kenyataan membunuh harapan...
Carilah alasan untuk tetap bertahan...
Hari ini, esok, dan kemudian...
Janganlah berhenti mencari alasan...
Agar tetap hidup di hari depan...
Agar mampu untuk terus bertahan...
Jangan lepaskan jika tak ingin melepaskan...
Jangan bertahan jika enggan untuk bertahan...
Seperti akal yang tak akan pernah mengerti kehidupan...
Seperti itulah hidup akan terus berjalan...
Semoga kan kutemukan alasan.....
Semoga aku akan tetap bertahan.....
Saat kekuatan digantikan oleh rentan...
Dan saat kenyataan membunuh harapan...
Carilah alasan untuk tetap bertahan...
Hari ini, esok, dan kemudian...
Janganlah berhenti mencari alasan...
Agar tetap hidup di hari depan...
Agar mampu untuk terus bertahan...
Jangan lepaskan jika tak ingin melepaskan...
Jangan bertahan jika enggan untuk bertahan...
Seperti akal yang tak akan pernah mengerti kehidupan...
Seperti itulah hidup akan terus berjalan...
Semoga kan kutemukan alasan.....
Semoga aku akan tetap bertahan.....
Kamis, 20 Februari 2014
I M A N
Jatuh bangun keyakinanku seperti anak kecil yang baru belajar berjalan...
Hilang timbul percayaku seperti lumba-lumba di laut teluk kiluan...
Seperti lampu yang redup kala malam tak berbulan...
Seperti katak yang hanya diam menanti turunnya hujan...
Aku merenung di depan kesusahan, bertapa di samping kesesakan...
Tak ada tenang di tengah kegelapan, tak ada damai di bawah pekat pikiran...
Hanya aku dan diriku berhadapan, aku hanya sendirian...
Aku rasakan satu kehilangan, aku rasakan satu kekosongan...
Ah.., perlu bagiku dibenamkan hingga ke dasar tergelap lautan...
Perlu bagiku direndahkan sampai aku tak lagi bisa direndahkan...
Biar kusadari tak ada uluran tangan yang lebih setia dari tangan TUHAN...
Biar kutanggalkan semua atribut keangkuhan yang melekat di sekujur badan...
Bersyukur saat datang kesukaan, apakah itu menakjubkan...?
Bertahan dalam badai kebahagiaan, apakah itu mengagumkan...?
Tak ada pahlawan yang disebut pahlawan jika lari dari medan pertempuran...
Tak ada keberanian melebihi keberanian para pembela kebenaran yang berdiri kokoh di garis terdepan...
Ujian adalah pelajaran, kesulitan adalah pembentukan...
Hanya kekuatan dari DIA yang akan memampukan aku bertahan...
Hanya kesabaran dari DIA yang akan mampu meneguhkan pijakan...
Semoga TUHAN bermurah hati mengaruniakan iman yang bercermin pada ketulusan dan kerelaan...
Hilang timbul percayaku seperti lumba-lumba di laut teluk kiluan...
Seperti lampu yang redup kala malam tak berbulan...
Seperti katak yang hanya diam menanti turunnya hujan...
Aku merenung di depan kesusahan, bertapa di samping kesesakan...
Tak ada tenang di tengah kegelapan, tak ada damai di bawah pekat pikiran...
Hanya aku dan diriku berhadapan, aku hanya sendirian...
Aku rasakan satu kehilangan, aku rasakan satu kekosongan...
Ah.., perlu bagiku dibenamkan hingga ke dasar tergelap lautan...
Perlu bagiku direndahkan sampai aku tak lagi bisa direndahkan...
Biar kusadari tak ada uluran tangan yang lebih setia dari tangan TUHAN...
Biar kutanggalkan semua atribut keangkuhan yang melekat di sekujur badan...
Bersyukur saat datang kesukaan, apakah itu menakjubkan...?
Bertahan dalam badai kebahagiaan, apakah itu mengagumkan...?
Tak ada pahlawan yang disebut pahlawan jika lari dari medan pertempuran...
Tak ada keberanian melebihi keberanian para pembela kebenaran yang berdiri kokoh di garis terdepan...
Ujian adalah pelajaran, kesulitan adalah pembentukan...
Hanya kekuatan dari DIA yang akan memampukan aku bertahan...
Hanya kesabaran dari DIA yang akan mampu meneguhkan pijakan...
Semoga TUHAN bermurah hati mengaruniakan iman yang bercermin pada ketulusan dan kerelaan...
Kamis, 13 Februari 2014
Menghakimi Tanpa Mengerti
Pernahkah kamu menjalani hidup yang kujalani...?
Adakah kamu selami apa yang kurasa dalam hati...?
Taukah kamu kapan aku memulai hari dan kapan ku akhiri...?
Mengapakah hanya selintas saja mata indahmu itu menilai rendahku ini...?
Terbukakah matamu menatap apa yang kutatap saat aku bermimpi...?
Pecahkan kepalaku dan lihat isi otakku, beritahukanlah padaku, kapankah aku akan berhenti...?
Belah jiwaku dan pandang warna rohku, katakanlah padaku, masih lamakah aku mati...?
Mengapakah kamu menghakimi tanpa mengerti yang kuhadapi...?
Kamu berkata, kurang keras kerjaku, terlalu malas ku langkahkan kaki...
Tak boleh aku begitu, tak seharusnya aku seperti ini...
Kamu vonis aku tinggi hati, menghamburkan harta untuk sesuatu yang tak aku peduli...
Tak tentu arah kamu pecutkan cemetimu, mencambukku bertubi-tubi...
Tapi aku berkata padamu, semua adalah milik DIA, satu-satunya sumber yang ku nanti...
Susah payahku tak akan menambahkan sedikitpun kesejahteraan pada pundiku ini...
Berbahagialah kamu, karena kepadamu saat ini DIA tengah bermurah hati...
Kiranya kamu bijaksana dan mengerti, bahkan dirimu bukanlah milikmu sendiri...
Baiklah kehendak-NYA, terbaiklah yang terjadi...
Baiklah rencana-NYA, terbaiklah yang diberi...
Baiklah waktu-NYA, terbaiklah bagiku saat ini...
Jauhlah sakit hatiku, jauhlah kiranya benciku kepada kamu yang tak mengerti...
Adakah kamu selami apa yang kurasa dalam hati...?
Taukah kamu kapan aku memulai hari dan kapan ku akhiri...?
Mengapakah hanya selintas saja mata indahmu itu menilai rendahku ini...?
Terbukakah matamu menatap apa yang kutatap saat aku bermimpi...?
Pecahkan kepalaku dan lihat isi otakku, beritahukanlah padaku, kapankah aku akan berhenti...?
Belah jiwaku dan pandang warna rohku, katakanlah padaku, masih lamakah aku mati...?
Mengapakah kamu menghakimi tanpa mengerti yang kuhadapi...?
Kamu berkata, kurang keras kerjaku, terlalu malas ku langkahkan kaki...
Tak boleh aku begitu, tak seharusnya aku seperti ini...
Kamu vonis aku tinggi hati, menghamburkan harta untuk sesuatu yang tak aku peduli...
Tak tentu arah kamu pecutkan cemetimu, mencambukku bertubi-tubi...
Tapi aku berkata padamu, semua adalah milik DIA, satu-satunya sumber yang ku nanti...
Susah payahku tak akan menambahkan sedikitpun kesejahteraan pada pundiku ini...
Berbahagialah kamu, karena kepadamu saat ini DIA tengah bermurah hati...
Kiranya kamu bijaksana dan mengerti, bahkan dirimu bukanlah milikmu sendiri...
Baiklah kehendak-NYA, terbaiklah yang terjadi...
Baiklah rencana-NYA, terbaiklah yang diberi...
Baiklah waktu-NYA, terbaiklah bagiku saat ini...
Jauhlah sakit hatiku, jauhlah kiranya benciku kepada kamu yang tak mengerti...
Sabtu, 08 Februari 2014
T E R B A N G
Ramai kicau burung yang sedang berbincang...
Riuh suara anak-anak bermain riang...
Terdengar bagai alunan musik di tengah padang...
Membuat anganku melayang jauh, TERBANG...
Ranumnya buah di pohon yang mulai matang...
Harumnya bunga di taman yang memikat para kumbang...
Dan semilir angin yang mengajak rumput berdansa senang...
Membawa anganku kembali melayang jauh, TERBANG...
Aku berteduh di bawah pohon yang rindang...
Menikmati panorama menawan sejauh mata memandang...
Menyapa para petani yang berpulang dari ladang...
Melihat para gembala menggiring domba kembali ke kandang...
Murung hatiku menyadari indahnya senja akan segera menghilang...
Sedih rasaku mengingat kelam malam segera datang...
Kulihat rembulan mulai berbenah merapikan barisan bintang...
Kulihat cakrawala mulai menutup tirai di kaki terang...
Tak terasa, sudah terlalu jauh anganku melayang...
Tak kusadari, terlalu tinggi khayalku terbang...
Semua hanya bayang, tapi inginku bukanlah bayang...
Aku ingin melayang, aku ingin TERBANG...
Riuh suara anak-anak bermain riang...
Terdengar bagai alunan musik di tengah padang...
Membuat anganku melayang jauh, TERBANG...
Ranumnya buah di pohon yang mulai matang...
Harumnya bunga di taman yang memikat para kumbang...
Dan semilir angin yang mengajak rumput berdansa senang...
Membawa anganku kembali melayang jauh, TERBANG...
Aku berteduh di bawah pohon yang rindang...
Menikmati panorama menawan sejauh mata memandang...
Menyapa para petani yang berpulang dari ladang...
Melihat para gembala menggiring domba kembali ke kandang...
Murung hatiku menyadari indahnya senja akan segera menghilang...
Sedih rasaku mengingat kelam malam segera datang...
Kulihat rembulan mulai berbenah merapikan barisan bintang...
Kulihat cakrawala mulai menutup tirai di kaki terang...
Tak terasa, sudah terlalu jauh anganku melayang...
Tak kusadari, terlalu tinggi khayalku terbang...
Semua hanya bayang, tapi inginku bukanlah bayang...
Aku ingin melayang, aku ingin TERBANG...
Rabu, 05 Februari 2014
E N T A H
Lelah, susah, payah...
Aku mulai lemah...
Pasrah, terserah, entah...
Aku hampir kalah...
Tertatih, aku paksakan langkah...
Terjatuh, aku merayap di atas tanah...
Sejengkal demi sejengkal, setengah demi setengah...
Jenuhku penuh, aku gerah...
Resahku menggeliat gelisah...
Akankah aku sampai di muka rumah...?
Di tindas hujan, aku menggigil basah...
Di lindas gelap, aku hilang arah...
Rebah terlentang, sejenak ku lepaskan susah...
Seperti menantang, titik air hujan bertubi memukuli wajah...
Ku tatap angkasa hampa tak meriah...
Ku pandang langit muram tak sumringah...
Mega menghardik bulan dan bintang seperti sampah...
Semesta hanya diam tak kuasa mencegah...
Lelah, aku sungguh lelah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Aku hampir kalah, tapi aku belum kalah...
Aku sangat lelah, namun bukan berarti aku akan menyerah...
Betapa aku sadari aku lemah, betapa tak berguna aku marah...
Sungguh enggan aku pasrah, sungguh lebih baik bagiku berserah...
Jauhlah kiranya aku dari diriku, kuatku pun enyahlah...
Mulia hanya bagi YANG MAHA MULIA, maka lenyaplah lemah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Akankah aku tiba di rumah...?
Bilakah aku berdiri di muka rumah...?
Entahlah...
Tak perlu ku tau yang tak perlu ku tau, hanya menggodaku untuk lengah...
Yang ku perlu usaha, doa, dan harapan, aku akan layak jika kelak aku tiba di rumah...
Aku mulai lemah...
Pasrah, terserah, entah...
Aku hampir kalah...
Tertatih, aku paksakan langkah...
Terjatuh, aku merayap di atas tanah...
Sejengkal demi sejengkal, setengah demi setengah...
Jenuhku penuh, aku gerah...
Resahku menggeliat gelisah...
Akankah aku sampai di muka rumah...?
Di tindas hujan, aku menggigil basah...
Di lindas gelap, aku hilang arah...
Rebah terlentang, sejenak ku lepaskan susah...
Seperti menantang, titik air hujan bertubi memukuli wajah...
Ku tatap angkasa hampa tak meriah...
Ku pandang langit muram tak sumringah...
Mega menghardik bulan dan bintang seperti sampah...
Semesta hanya diam tak kuasa mencegah...
Lelah, aku sungguh lelah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Aku hampir kalah, tapi aku belum kalah...
Aku sangat lelah, namun bukan berarti aku akan menyerah...
Betapa aku sadari aku lemah, betapa tak berguna aku marah...
Sungguh enggan aku pasrah, sungguh lebih baik bagiku berserah...
Jauhlah kiranya aku dari diriku, kuatku pun enyahlah...
Mulia hanya bagi YANG MAHA MULIA, maka lenyaplah lemah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Akankah aku tiba di rumah...?
Bilakah aku berdiri di muka rumah...?
Entahlah...
Tak perlu ku tau yang tak perlu ku tau, hanya menggodaku untuk lengah...
Yang ku perlu usaha, doa, dan harapan, aku akan layak jika kelak aku tiba di rumah...
Langganan:
Komentar (Atom)