Minggu, 19 April 2015

RESAH BERTANYA

Resah datang menyapa...
Apa kabar Lilin di Jakarta..?
Gelisah datang bertanya...
Baik sajakah Lilin di sana..?

Aku hanya diam tanpa kata...
Aku bungkam tak mampu bicara...
Sungguh tak berguna aku sebagai seorang pria...
Tak di sisinya saat dia membutuhkan cinta...

Lemas kakiku berlutut di hadapan Raja Semesta...
Memohon pengawalan malaikat surga dalam setiap detik hidupnya...
Cemas hatiku bersujud di hadapan Bapa seluruh umat manusia...
Harapkan belas kasih-Nya menjaga Lilin senantiasa...

Hanya kepada-Mu ya Tuhan aku meminta...
Hanya kepada-Mu saja aku percaya...
Kiranya Engkau menjaganya saat kami tak saling menatap mata...
Mampukan aku menjaganya saat kami kelak bersama...

Resah menyapa, gelisah bertanya...
Gerah merasa tak berguna...
Cemas dalam hati meraja...
Hanya berdoa, semoga dia selalu baik-baik saja...



Jumat, 17 April 2015

Pelita Malaikat Cinta


Sekuntum bunga datang membawa cinta...
Tanamkan rasa taburkan ceria...
Sekuntum bunga tebarkan pesona sejuta warna...
Semerbak harumnya melebihi harum kayu pohon cendana...

Aku tertawa aku bahagia aku penuh dengan cinta...
Kulupakan luka kulepaskan duka tak lagi ada putus asa...
Hidupku berubah sedari pertama jarimu bicara...
Semua berbeda sejak merdu suaramu melantunkan nada...

Gila, aku mencintaimu seperti orang gila tak berlogika...
Satu rasa yang tak pernah kurasa sebelumnya...
Hanya kamu hanya bayangmu menari-nari di dalam kepala...
Hanya kamu hanya senyummu tak henti-henti menggoda...


Kamu yang membawa cinta...
Kamu yang taburkan ceria...
Kamu yang tebarkan pesona...
Kamu yang memberi warna...
Kamu yang membuatku tertawa...
Kamu yang ciptakan bahagia...
Kamu yang membuatku tergila-gila...
Kamu yang menari dalam kepala...
Kamu yang selalu menggoda...



Kamu...malaikat cinta dalam rupa wanita cantik berjiwa sederhana...
Kamu...lilin kecilku yang berjalan menjinjing pelita, menuntun aku yang buta di tengah gelapnya dunia...


Kamis, 09 April 2015

Delapan April


8 April bersemi, 8 April berjanji...
8 April kuserahkan diri pada satu hati...
8 April kutambatkan hati pada satu bidadari...
8 April adalah anugerah Sang Maha Suci yang telah lama kunanti...

Tetaplah begini tetaplah seperti ini...
Satukan hati layaknya sepasang merpati...
Ingin selamanya begini ingin selamanya seperti ini...
Bersama saling mengasihi, sampai nanti sampai kita tak lagi menetap di bumi...

Janganlah pergi walau kelak muak mendorongmu untuk pergi...
Tegur aku peluk aku selembut dewi membelai pelangi
Janganlah benci saat aku salah mengerti...
Pegang tanganku untuk tetap di sisimu memperbaiki diri...

Karena aku hanya ingin kamu yang akan menjadi rusukku nanti...
Karena hanya kamu yang mampu menjadi teman yang sejati...
Karena bersamamu ingin kutuliskan kisah indahku di bawah matahari...
Kisah tentang aku yang mendekap lilin selama nafasku masih belum berhenti...

Senin, 06 April 2015

Jika TUHAN Mengijinkan Jika Kamu Memberi Kesempatan

Jika Tuhan mengijinkan...

Jika kamu memberi kesempatan...

Selat Sunda terlihat sangat kecil menghadang jalan di depan...

Ibu Kota hanya sedekat angan sejauh jangkauan tangan...


Jika Tuhan mengijinkan...

Jika kamu memberi kesempatan...

Jarak terdengar konyol saat berkata mampu mengurung keinginan...

Enggan terlihat tolol mengira akan menang melawan harapan...


Karena jika Tuhan mengijinkan...

Kakiku tak akan ragu melangkah ke arah selatan kota Metropolitan...

Karena jika kamu memberi kesempatan...

Tanganku akan selalu menjaga nyala apimu dalam pelukan kesetiaan...


Perbedaan adalah warna kehidupan yang terlukis indah di atas awan...

Kekurangan seperti tetesan air mata yang mendatangkan kelegaan...

Bukankah ragam tanaman yang memperindah sebuah taman..?

Bukankah kelebihan ada untuk melengkapi kekurangan..?


Aq tak lebih berharga dari debu yang mengotori pinggan...

Aq tak lebih berharga dari cawan retak yang tak lagi bisa digunakan...

Aq hanyalah api yang ingin menyala pada satu lilin di atas satu kaki dian...

Aq ingin padam bersama habisnya lilin, tenggelam, membeku dalam lelehan lilin sampai berakhirnya jaman...

Jumat, 03 April 2015

L I L I N

Setitik api terlihat diam berdiri... 
Sesekali bergoyang kala angin malam datang menghampiri... 
Seperti menggoda, sang angin seolah ingin mengajaknya menari... 
Seperti sembunyi, titik api seolah sembunyi di balik pekatnya sunyi... 

Bukan, ternyata sang angin bukan ingin mengajak api menari... 

Merah wajahnya terlihat marah memendam segunung benci... 
Hembuskan jutaan iri, angin hanya ingin memadamkan api... 
Kibaskan ribuan dengki, angin berharap api akan segera mati... 

Tidak, sekalipun titik api tidak pernah sembunyi... 

Mengemban tugas sebagai terang, api menyelam dalam gelap dengan berani... 
Tak gentar, tak ragu, api bertahan melawan angin yang menyerang bertubi... 
Tetap berdiri, api bertekad menunaikan misi dengan tidak mati sampai saat datangnya matahari pagi... 

Siapakah api..? 

Dari manakah datangnya api..? 
Api hanyalah bagian kecil dari sebuah lilin yang tak pernah dihargai... 
Api adalah lilin yang berkorban membakar habis dirinya sendiri... 

Akankah lilin menerangi hati dengan cahayanya yang abadi..? 

Akankah lilin menemani sepi dalam pelukan hangat api yang suci..? 
Selamanya dan seterusnya bernyanyi... 
Selamanya dan seterusnya menari...