Susah hati tak terucap, sedih jiwa tak terungkap...
Mimpi telah pergi menjauhi harap, tak pasti telah datang menyergap...
Ingin lelap, benamkan diri di tengah pasir hisap...
Biarkan mengendap, biar lenyap...
Ingin menyelam ke dasar samudera menuju neraka...
Agar tak lagi terlihat, mata yang meneteskan air mata...
Agar air mata tak lagi membasahi pipi para pendoa...
Agar mata tak perlu lagi terbuka, selamanya...
Aku tak mau, jangan paksa aku kibarkan bendera...
Putih...
Aku tak ingin mengangkat bendera...
Putih...
Aku tak ingin merubah warna bendera...
Menjadi putih...
Bendera putih...
Tak berarti bersih, tak melambangkan suci, hanyalah mati...
Bendera putih...
Lahirkan benci, injak harga diri, matikan arti lelaki...
Bendera putih...
Tanda menyerah yang tak gagah, lambang pasrah lelaki lemah...
Bendera putih...
Menyulut amarah lelaki yang memilih mati bersimbah darah...
Bendera putih...
Mati...
Bendera putih...
Pergi...
Bendera putih tak mau pergi...
Bendera putih terangkat tinggi...
Berkibar di dalam hati...
Lelaki mati...
Senin, 28 April 2014
Selasa, 22 April 2014
B I N T A N G
Kala malam aku mengintip dari balik jendela...
Sambil berbaring aku melihatmu mengedipkan mata...
Tenang, sejenak tenang mengisi ruang gelap kamar sederhana...
Nyaman, sesaat nyaman mengalun di sela celetuk doa para serangga...
Kamu berkata, tidurlah, aku akan berjaga sampai nanti pagi tiba...
Namun enggan mataku berpaling dari pesonamu yang bercahaya...
Kamu berkata, rehatlah, cukupkan hari ini sampai di sini saja...
Namun anganku melayang jauh menembusi dinding kelam jagat raya...
Bintang....
Taukah kamu aku menyukaimu sekaligus iri kepadamu..?
Taukah kamu aku tak menyapamu karena aku cemburu..?
Taukah kamu kalau aku ingin seperti kamu..?
Tak perlu berfikir, kamu tak pernah khawatir...
Tak punya ingin, kamu tak pernah merasakan getir...
Tak dituntut sempurna, kamu tak mengenal dosa...
Sedari awal menghias langit semesta, kamu tak pernah kenal air mata...
Bintang....
Ajak aku terbang...
Ajarkan aku menjadi bintang...
Aku ingin melayang dan tak ingin pulang.....
Sambil berbaring aku melihatmu mengedipkan mata...
Tenang, sejenak tenang mengisi ruang gelap kamar sederhana...
Nyaman, sesaat nyaman mengalun di sela celetuk doa para serangga...
Kamu berkata, tidurlah, aku akan berjaga sampai nanti pagi tiba...
Namun enggan mataku berpaling dari pesonamu yang bercahaya...
Kamu berkata, rehatlah, cukupkan hari ini sampai di sini saja...
Namun anganku melayang jauh menembusi dinding kelam jagat raya...
Bintang....
Taukah kamu aku menyukaimu sekaligus iri kepadamu..?
Taukah kamu aku tak menyapamu karena aku cemburu..?
Taukah kamu kalau aku ingin seperti kamu..?
Tak perlu berfikir, kamu tak pernah khawatir...
Tak punya ingin, kamu tak pernah merasakan getir...
Tak dituntut sempurna, kamu tak mengenal dosa...
Sedari awal menghias langit semesta, kamu tak pernah kenal air mata...
Bintang....
Ajak aku terbang...
Ajarkan aku menjadi bintang...
Aku ingin melayang dan tak ingin pulang.....
Minggu, 20 April 2014
J I K A
Jika nanti aku menyerah, bukanlah karena aku putus asa...
Hanya saja lelah yang mendekap erat telah memberiku tanda...
Cukuplah waktu bagiku mencoba, tak baik bagiku memaksa...
Dan aku akan tetap berjalan, walau kelak aku menjalani jalan yang berbeda...
Jika nanti aku berhenti, bukan karena aku takut untuk terus melangkah...
Tapi karena realita telah memberiku titah untuk menerima nyata...
Mungkin semangatku akan surut, tapi pelita hatiku tak akan sirna...
Seperti bintang yang tak pernah berhenti bercahaya walau saat tak terlihat mata...
Aku percaya bintang itu tetap ada di sana, tetap bercahaya di angkasa...
Aku percaya, dan hanya akan tetap percaya, bahwa percayaku tak akan sia-sia...
Hanya saja lelah yang mendekap erat telah memberiku tanda...
Cukuplah waktu bagiku mencoba, tak baik bagiku memaksa...
Dan aku akan tetap berjalan, walau kelak aku menjalani jalan yang berbeda...
Jika nanti aku berhenti, bukan karena aku takut untuk terus melangkah...
Tapi karena realita telah memberiku titah untuk menerima nyata...
Mungkin semangatku akan surut, tapi pelita hatiku tak akan sirna...
Seperti bintang yang tak pernah berhenti bercahaya walau saat tak terlihat mata...
Aku percaya bintang itu tetap ada di sana, tetap bercahaya di angkasa...
Aku percaya, dan hanya akan tetap percaya, bahwa percayaku tak akan sia-sia...
Kamis, 03 April 2014
Setia dan Kesempatan Ke-2
Seharusnya setia tetap dan selalu menjadi harga mati, seperti pelaku korupsi yg seharusnya di hukum mati.
Bukan aku tak percaya akan hal baik dari kesempatan kedua, tapi bicara tentang orang yg tidak setia, logikaku tertuju pada seorang pencuri. Bukankah hanya saat pertama kali beraksi si pencuri akan merasa takut dan cemas dalam hatinya..? Selanjutnya ia akan terbiasa bahkan sebagian mereka menjadikannya profesi atau menganggapnya hobi dengan alasan mengidap suatu penyakit yg mereka sebut klepto, bukan..?
Menurutku, kalaupun ingin memberi kesempatan kedua, haruslah diberikan dengan persyaratan dan pengawasan yg ketat sebagai hukuman menjelang lahirnya bukti dari rahim sang waktu. Namun yg jadi pertanyaan dalam otakku adalah, Nyamankah hidupnya yg seperti itu..? Siapkah kita menghabiskan hidup yg hanya sebentar ini bersama besarnya rasa curiga..? Sungguhkah ada tulus dalam maaf dan benar2 melupakan kesalahannya..?
Memang sebagian manusia kadang keras kepala dan cenderung bodoh karena harus terluka agar tau sakitnya luka, seperti pengendara yg tak peduli bahaya dan enggan berhati2 sebelum mengalami celaka.
Tapi lihatlah betapa bahagianya mereka yg tak perlu terluka untuk mengetahui sakitnya luka, karena mereka percaya bahwa yg menyakiti akan disakiti dan mereka yg tetap disakiti walau tak pernah menyakiti akan segera mendapat ganti yg jauh lebih baik tanpa sempat mereka meratap dan mengeluhkan yg terjadi.
Ini hanyalah opini salah seorang dari sekian banyak orang yg bodoh dan keras kepala itu, yg berharap menjadi orang bodoh yg terakhir di muka bumi agar tak lagi ada kata menyakiti dan disakiti.
Sesungguhnya nafsu selalu ada, tapi cinta tak selalu ada, karena sebagian besar kata cinta hanyalah bualan belaka, yg membuai dalam kehangatan selimut dusta.
Hati tercipta untuk merasa, logika ada untuk dibuka, maka manusia akan sadar bahwa tak ada cinta dalam diri orang yg tak peduli, tak mengerti, dan meremehkan rasa sakit hati.
Bukan aku tak percaya akan hal baik dari kesempatan kedua, tapi bicara tentang orang yg tidak setia, logikaku tertuju pada seorang pencuri. Bukankah hanya saat pertama kali beraksi si pencuri akan merasa takut dan cemas dalam hatinya..? Selanjutnya ia akan terbiasa bahkan sebagian mereka menjadikannya profesi atau menganggapnya hobi dengan alasan mengidap suatu penyakit yg mereka sebut klepto, bukan..?
Menurutku, kalaupun ingin memberi kesempatan kedua, haruslah diberikan dengan persyaratan dan pengawasan yg ketat sebagai hukuman menjelang lahirnya bukti dari rahim sang waktu. Namun yg jadi pertanyaan dalam otakku adalah, Nyamankah hidupnya yg seperti itu..? Siapkah kita menghabiskan hidup yg hanya sebentar ini bersama besarnya rasa curiga..? Sungguhkah ada tulus dalam maaf dan benar2 melupakan kesalahannya..?
Memang sebagian manusia kadang keras kepala dan cenderung bodoh karena harus terluka agar tau sakitnya luka, seperti pengendara yg tak peduli bahaya dan enggan berhati2 sebelum mengalami celaka.
Tapi lihatlah betapa bahagianya mereka yg tak perlu terluka untuk mengetahui sakitnya luka, karena mereka percaya bahwa yg menyakiti akan disakiti dan mereka yg tetap disakiti walau tak pernah menyakiti akan segera mendapat ganti yg jauh lebih baik tanpa sempat mereka meratap dan mengeluhkan yg terjadi.
Ini hanyalah opini salah seorang dari sekian banyak orang yg bodoh dan keras kepala itu, yg berharap menjadi orang bodoh yg terakhir di muka bumi agar tak lagi ada kata menyakiti dan disakiti.
Sesungguhnya nafsu selalu ada, tapi cinta tak selalu ada, karena sebagian besar kata cinta hanyalah bualan belaka, yg membuai dalam kehangatan selimut dusta.
Hati tercipta untuk merasa, logika ada untuk dibuka, maka manusia akan sadar bahwa tak ada cinta dalam diri orang yg tak peduli, tak mengerti, dan meremehkan rasa sakit hati.
Langganan:
Komentar (Atom)