Jatuh bangun keyakinanku seperti anak kecil yang baru belajar berjalan...
Hilang timbul percayaku seperti lumba-lumba di laut teluk kiluan...
Seperti lampu yang redup kala malam tak berbulan...
Seperti katak yang hanya diam menanti turunnya hujan...
Aku merenung di depan kesusahan, bertapa di samping kesesakan...
Tak ada tenang di tengah kegelapan, tak ada damai di bawah pekat pikiran...
Hanya aku dan diriku berhadapan, aku hanya sendirian...
Aku rasakan satu kehilangan, aku rasakan satu kekosongan...
Ah.., perlu bagiku dibenamkan hingga ke dasar tergelap lautan...
Perlu bagiku direndahkan sampai aku tak lagi bisa direndahkan...
Biar kusadari tak ada uluran tangan yang lebih setia dari tangan TUHAN...
Biar kutanggalkan semua atribut keangkuhan yang melekat di sekujur badan...
Bersyukur saat datang kesukaan, apakah itu menakjubkan...?
Bertahan dalam badai kebahagiaan, apakah itu mengagumkan...?
Tak ada pahlawan yang disebut pahlawan jika lari dari medan pertempuran...
Tak ada keberanian melebihi keberanian para pembela kebenaran yang berdiri kokoh di garis terdepan...
Ujian adalah pelajaran, kesulitan adalah pembentukan...
Hanya kekuatan dari DIA yang akan memampukan aku bertahan...
Hanya kesabaran dari DIA yang akan mampu meneguhkan pijakan...
Semoga TUHAN bermurah hati mengaruniakan iman yang bercermin pada ketulusan dan kerelaan...
Kamis, 20 Februari 2014
Kamis, 13 Februari 2014
Menghakimi Tanpa Mengerti
Pernahkah kamu menjalani hidup yang kujalani...?
Adakah kamu selami apa yang kurasa dalam hati...?
Taukah kamu kapan aku memulai hari dan kapan ku akhiri...?
Mengapakah hanya selintas saja mata indahmu itu menilai rendahku ini...?
Terbukakah matamu menatap apa yang kutatap saat aku bermimpi...?
Pecahkan kepalaku dan lihat isi otakku, beritahukanlah padaku, kapankah aku akan berhenti...?
Belah jiwaku dan pandang warna rohku, katakanlah padaku, masih lamakah aku mati...?
Mengapakah kamu menghakimi tanpa mengerti yang kuhadapi...?
Kamu berkata, kurang keras kerjaku, terlalu malas ku langkahkan kaki...
Tak boleh aku begitu, tak seharusnya aku seperti ini...
Kamu vonis aku tinggi hati, menghamburkan harta untuk sesuatu yang tak aku peduli...
Tak tentu arah kamu pecutkan cemetimu, mencambukku bertubi-tubi...
Tapi aku berkata padamu, semua adalah milik DIA, satu-satunya sumber yang ku nanti...
Susah payahku tak akan menambahkan sedikitpun kesejahteraan pada pundiku ini...
Berbahagialah kamu, karena kepadamu saat ini DIA tengah bermurah hati...
Kiranya kamu bijaksana dan mengerti, bahkan dirimu bukanlah milikmu sendiri...
Baiklah kehendak-NYA, terbaiklah yang terjadi...
Baiklah rencana-NYA, terbaiklah yang diberi...
Baiklah waktu-NYA, terbaiklah bagiku saat ini...
Jauhlah sakit hatiku, jauhlah kiranya benciku kepada kamu yang tak mengerti...
Adakah kamu selami apa yang kurasa dalam hati...?
Taukah kamu kapan aku memulai hari dan kapan ku akhiri...?
Mengapakah hanya selintas saja mata indahmu itu menilai rendahku ini...?
Terbukakah matamu menatap apa yang kutatap saat aku bermimpi...?
Pecahkan kepalaku dan lihat isi otakku, beritahukanlah padaku, kapankah aku akan berhenti...?
Belah jiwaku dan pandang warna rohku, katakanlah padaku, masih lamakah aku mati...?
Mengapakah kamu menghakimi tanpa mengerti yang kuhadapi...?
Kamu berkata, kurang keras kerjaku, terlalu malas ku langkahkan kaki...
Tak boleh aku begitu, tak seharusnya aku seperti ini...
Kamu vonis aku tinggi hati, menghamburkan harta untuk sesuatu yang tak aku peduli...
Tak tentu arah kamu pecutkan cemetimu, mencambukku bertubi-tubi...
Tapi aku berkata padamu, semua adalah milik DIA, satu-satunya sumber yang ku nanti...
Susah payahku tak akan menambahkan sedikitpun kesejahteraan pada pundiku ini...
Berbahagialah kamu, karena kepadamu saat ini DIA tengah bermurah hati...
Kiranya kamu bijaksana dan mengerti, bahkan dirimu bukanlah milikmu sendiri...
Baiklah kehendak-NYA, terbaiklah yang terjadi...
Baiklah rencana-NYA, terbaiklah yang diberi...
Baiklah waktu-NYA, terbaiklah bagiku saat ini...
Jauhlah sakit hatiku, jauhlah kiranya benciku kepada kamu yang tak mengerti...
Sabtu, 08 Februari 2014
T E R B A N G
Ramai kicau burung yang sedang berbincang...
Riuh suara anak-anak bermain riang...
Terdengar bagai alunan musik di tengah padang...
Membuat anganku melayang jauh, TERBANG...
Ranumnya buah di pohon yang mulai matang...
Harumnya bunga di taman yang memikat para kumbang...
Dan semilir angin yang mengajak rumput berdansa senang...
Membawa anganku kembali melayang jauh, TERBANG...
Aku berteduh di bawah pohon yang rindang...
Menikmati panorama menawan sejauh mata memandang...
Menyapa para petani yang berpulang dari ladang...
Melihat para gembala menggiring domba kembali ke kandang...
Murung hatiku menyadari indahnya senja akan segera menghilang...
Sedih rasaku mengingat kelam malam segera datang...
Kulihat rembulan mulai berbenah merapikan barisan bintang...
Kulihat cakrawala mulai menutup tirai di kaki terang...
Tak terasa, sudah terlalu jauh anganku melayang...
Tak kusadari, terlalu tinggi khayalku terbang...
Semua hanya bayang, tapi inginku bukanlah bayang...
Aku ingin melayang, aku ingin TERBANG...
Riuh suara anak-anak bermain riang...
Terdengar bagai alunan musik di tengah padang...
Membuat anganku melayang jauh, TERBANG...
Ranumnya buah di pohon yang mulai matang...
Harumnya bunga di taman yang memikat para kumbang...
Dan semilir angin yang mengajak rumput berdansa senang...
Membawa anganku kembali melayang jauh, TERBANG...
Aku berteduh di bawah pohon yang rindang...
Menikmati panorama menawan sejauh mata memandang...
Menyapa para petani yang berpulang dari ladang...
Melihat para gembala menggiring domba kembali ke kandang...
Murung hatiku menyadari indahnya senja akan segera menghilang...
Sedih rasaku mengingat kelam malam segera datang...
Kulihat rembulan mulai berbenah merapikan barisan bintang...
Kulihat cakrawala mulai menutup tirai di kaki terang...
Tak terasa, sudah terlalu jauh anganku melayang...
Tak kusadari, terlalu tinggi khayalku terbang...
Semua hanya bayang, tapi inginku bukanlah bayang...
Aku ingin melayang, aku ingin TERBANG...
Rabu, 05 Februari 2014
E N T A H
Lelah, susah, payah...
Aku mulai lemah...
Pasrah, terserah, entah...
Aku hampir kalah...
Tertatih, aku paksakan langkah...
Terjatuh, aku merayap di atas tanah...
Sejengkal demi sejengkal, setengah demi setengah...
Jenuhku penuh, aku gerah...
Resahku menggeliat gelisah...
Akankah aku sampai di muka rumah...?
Di tindas hujan, aku menggigil basah...
Di lindas gelap, aku hilang arah...
Rebah terlentang, sejenak ku lepaskan susah...
Seperti menantang, titik air hujan bertubi memukuli wajah...
Ku tatap angkasa hampa tak meriah...
Ku pandang langit muram tak sumringah...
Mega menghardik bulan dan bintang seperti sampah...
Semesta hanya diam tak kuasa mencegah...
Lelah, aku sungguh lelah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Aku hampir kalah, tapi aku belum kalah...
Aku sangat lelah, namun bukan berarti aku akan menyerah...
Betapa aku sadari aku lemah, betapa tak berguna aku marah...
Sungguh enggan aku pasrah, sungguh lebih baik bagiku berserah...
Jauhlah kiranya aku dari diriku, kuatku pun enyahlah...
Mulia hanya bagi YANG MAHA MULIA, maka lenyaplah lemah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Akankah aku tiba di rumah...?
Bilakah aku berdiri di muka rumah...?
Entahlah...
Tak perlu ku tau yang tak perlu ku tau, hanya menggodaku untuk lengah...
Yang ku perlu usaha, doa, dan harapan, aku akan layak jika kelak aku tiba di rumah...
Aku mulai lemah...
Pasrah, terserah, entah...
Aku hampir kalah...
Tertatih, aku paksakan langkah...
Terjatuh, aku merayap di atas tanah...
Sejengkal demi sejengkal, setengah demi setengah...
Jenuhku penuh, aku gerah...
Resahku menggeliat gelisah...
Akankah aku sampai di muka rumah...?
Di tindas hujan, aku menggigil basah...
Di lindas gelap, aku hilang arah...
Rebah terlentang, sejenak ku lepaskan susah...
Seperti menantang, titik air hujan bertubi memukuli wajah...
Ku tatap angkasa hampa tak meriah...
Ku pandang langit muram tak sumringah...
Mega menghardik bulan dan bintang seperti sampah...
Semesta hanya diam tak kuasa mencegah...
Lelah, aku sungguh lelah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Aku hampir kalah, tapi aku belum kalah...
Aku sangat lelah, namun bukan berarti aku akan menyerah...
Betapa aku sadari aku lemah, betapa tak berguna aku marah...
Sungguh enggan aku pasrah, sungguh lebih baik bagiku berserah...
Jauhlah kiranya aku dari diriku, kuatku pun enyahlah...
Mulia hanya bagi YANG MAHA MULIA, maka lenyaplah lemah...
Masih jauhkah aku dari rumah...?
Akankah aku tiba di rumah...?
Bilakah aku berdiri di muka rumah...?
Entahlah...
Tak perlu ku tau yang tak perlu ku tau, hanya menggodaku untuk lengah...
Yang ku perlu usaha, doa, dan harapan, aku akan layak jika kelak aku tiba di rumah...
Langganan:
Komentar (Atom)