Minggu, 23 Agustus 2015

Terima Kasih TUHAN Terima Kasih Cinta








Badai mengamuk ganas, hempaskan aku jauh ke tengah samudera...
Badai mengaum buas, tenggelamkan aku ke dasar terdalam dunia...
Menamparku keras, aku menjadi bulanan tak ubahnya sebuah bola...
Melemparku deras, aku mulai lemah tak berdaya...

Dalam lemahku aku terus panjatkan doa...
Dalam letihku aku berseru pada Tuhanku Yang Maha Kuasa...
Karena hanya DIA yang mampu selamatkan aku dari badai yang semakin menggila...
Karena aku tau, seluruh alam semesta tunduk di bawah perintah-NYA...




Lalu..........



Laut tenang seketika, badai ganas itu pun reda...
Dunia penuh amarah seperti kehilangan murka, digantikan-NYA dengan setitik asa...
Tenagaku kembali terhimpun dalam raga, semangatku kembali membara...
Ku kayuh lenganku menghampiri asa yang jauh di sana...






Aku berlabuh di satu alam yang belum terjamah cemar manusia...
Murni, semurni bayi yang belum mengenal dosa...
Aku berteduh di bawah langit malam bulan purnama...
Sunyi, hanya terdengar nyanyian merdu bidadari yang sedang jatuh cinta...

Satu alam itu adalah hatimu yang lebih indah dari kemegahan sebuah istana...
Setitik asa yang telah melahirkan banyak cinta di antara kita...
Karena kamu adalah bidadari yang telah membuatku jatuh cinta...
Karena bidadari yang bernyanyi itu adalah kamu, Lilin Mahardika...








Puji syukur hanya kepada TUHAN oleh karena kasih-NYA yang tak terhingga...
Terima kasih TUHAN, untuk anugerah cinta terindah dari seorang Lilin Mahardika... 


Jumat, 07 Agustus 2015

My Endless Love



Aku puja, paras cantikmu itu paras yang aku puja...
Aku jaga, senyum manismu itu senyum yang ingin selalu ku jaga...
Bagaimana tidak aku mencintai cinta selayaknya cinta..?
Bagaimana tidak aku mengasihi kamu yang aku inginkan menemaniku menua..?

Ini bukan tentang bagaimana kita memulai cinta sedari semula...
Ini bukan tentang bagaimana nanti cerita cinta kita pada akhirnya...
Tapi tentang bagaimana kita saat ini menjaga cinta yang ada...
Bagaimana kita menikmati kehangatan cinta bersama...

Karena kelak kita akan terlalu tua untuk bercerita...
Karena kelak kita hanya akan diam tanpa suara...
Karena kelak kita hanya akan berpelukan menikmati hangat senja di halaman rumah kita yang sederhana...
Karena kelak tetap ada cinta antara kita...

 

Sesungguhnya awal telah tergores dalam kepala tanpa kita merancangnya...
Menjadi awal cerita yang tak akan pernah terlupa...
sesungguhnya kita tidak akan pernah tau akhir cerita cinta kita...
Karena saat akhir itu tiba, saat itu kita tak lagi ada di dunia...




Lilin Mahardika, satu untuk selamanya...
My Endless Love...





Rabu, 05 Agustus 2015

Musim Berubah, Manusia Tak Harus Berubah

Seperti musim, manusia berubah...
Lebih cepat dari musim, manusia lebih cepat berubah...
Seperti darah mengering yang tak lagi berwarna merah...
Seperti mendung yang datang sekejap mengusir cerah...

Aku benci sejuk yang berubah menjadi gerah...
Aku benci udara yang selalu berubah tak tentu arah...
Aku benci bidadari yang pergi meninggalkan aku bersama gundah...
Seperti tak lagi peduli, acuh dalam terserah...




Tapi.....

Tak seperti yang kufikirkan, otakku telah menuntunku pada jalan yang salah...
Tak seperti yang kubayangkan, logikaku telah dibutakan oleh ego yang penuh amarah...
Mendung tak selamanya menutup cerah, gerah tak melulu datang sesering sifat serakah...
Musim berubah, manusia berubah, dan itu lumrah...

Aku telah salah...
Menyakiti hati bidadari yang ku puja, aku sangat bersalah...
Memandang cinta sangat rendah, aku lebih rendah...
Mengotori hati dengan sampah, aku seperti sampah...

Untuk kebaikan musim berubah, demi kebaikan manusia perlu berubah...
Sebagaimana sampah yang diolah bisa membawa kesuburan bagi tanah...
Musim akan selalu berubah, manusia tak harus selalu berubah...
Sadar dan belajar, sebelum waktu merubah bodoh menjadi penyesalan yang akan terus meludah di sepanjang hidup seperti wabah menebar susah...


Maafkan aku yang tak bijak menelaah...
Maafkan aku telah melihat dari sebelah sisi yang salah...