Rabu, 05 Agustus 2015

Musim Berubah, Manusia Tak Harus Berubah

Seperti musim, manusia berubah...
Lebih cepat dari musim, manusia lebih cepat berubah...
Seperti darah mengering yang tak lagi berwarna merah...
Seperti mendung yang datang sekejap mengusir cerah...

Aku benci sejuk yang berubah menjadi gerah...
Aku benci udara yang selalu berubah tak tentu arah...
Aku benci bidadari yang pergi meninggalkan aku bersama gundah...
Seperti tak lagi peduli, acuh dalam terserah...




Tapi.....

Tak seperti yang kufikirkan, otakku telah menuntunku pada jalan yang salah...
Tak seperti yang kubayangkan, logikaku telah dibutakan oleh ego yang penuh amarah...
Mendung tak selamanya menutup cerah, gerah tak melulu datang sesering sifat serakah...
Musim berubah, manusia berubah, dan itu lumrah...

Aku telah salah...
Menyakiti hati bidadari yang ku puja, aku sangat bersalah...
Memandang cinta sangat rendah, aku lebih rendah...
Mengotori hati dengan sampah, aku seperti sampah...

Untuk kebaikan musim berubah, demi kebaikan manusia perlu berubah...
Sebagaimana sampah yang diolah bisa membawa kesuburan bagi tanah...
Musim akan selalu berubah, manusia tak harus selalu berubah...
Sadar dan belajar, sebelum waktu merubah bodoh menjadi penyesalan yang akan terus meludah di sepanjang hidup seperti wabah menebar susah...


Maafkan aku yang tak bijak menelaah...
Maafkan aku telah melihat dari sebelah sisi yang salah...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar