Seharusnya setia tetap dan selalu menjadi harga mati, seperti pelaku korupsi yg seharusnya di hukum mati.
Bukan aku tak percaya akan hal baik dari kesempatan kedua, tapi bicara tentang orang yg tidak setia, logikaku tertuju pada seorang pencuri. Bukankah hanya saat pertama kali beraksi si pencuri akan merasa takut dan cemas dalam hatinya..? Selanjutnya ia akan terbiasa bahkan sebagian mereka menjadikannya profesi atau menganggapnya hobi dengan alasan mengidap suatu penyakit yg mereka sebut klepto, bukan..?
Menurutku, kalaupun ingin memberi kesempatan kedua, haruslah diberikan dengan persyaratan dan pengawasan yg ketat sebagai hukuman menjelang lahirnya bukti dari rahim sang waktu. Namun yg jadi pertanyaan dalam otakku adalah, Nyamankah hidupnya yg seperti itu..? Siapkah kita menghabiskan hidup yg hanya sebentar ini bersama besarnya rasa curiga..? Sungguhkah ada tulus dalam maaf dan benar2 melupakan kesalahannya..?
Memang sebagian manusia kadang keras kepala dan cenderung bodoh karena harus terluka agar tau sakitnya luka, seperti pengendara yg tak peduli bahaya dan enggan berhati2 sebelum mengalami celaka.
Tapi lihatlah betapa bahagianya mereka yg tak perlu terluka untuk mengetahui sakitnya luka, karena mereka percaya bahwa yg menyakiti akan disakiti dan mereka yg tetap disakiti walau tak pernah menyakiti akan segera mendapat ganti yg jauh lebih baik tanpa sempat mereka meratap dan mengeluhkan yg terjadi.
Ini hanyalah opini salah seorang dari sekian banyak orang yg bodoh dan keras kepala itu, yg berharap menjadi orang bodoh yg terakhir di muka bumi agar tak lagi ada kata menyakiti dan disakiti.
Sesungguhnya nafsu selalu ada, tapi cinta tak selalu ada, karena sebagian besar kata cinta hanyalah bualan belaka, yg membuai dalam kehangatan selimut dusta.
Hati tercipta untuk merasa, logika ada untuk dibuka, maka manusia akan sadar bahwa tak ada cinta dalam diri orang yg tak peduli, tak mengerti, dan meremehkan rasa sakit hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar