Hati manusia sangat lembut, namun air matanya terasa pahit...
Seperti danau yang tertutup kabut saat terang masih tergantung di langit...
Seperti anak kecil yang penakut, seperti orang tua yang rentan terhadap penyakit...
Tak mengerti hatinya menjadi kalut, diberi arti akalnya tergesa menyempit...
Bergunakah batangan pensil yang tak pernah diserut...?
Tak bergunakah matahari yang berbagi cahaya setiap kali ia terbit...?
Tidak terlihat menawankah sunset yang perlahan menghilang di penghujung laut...?
Lebih cantikkah goresan kuas para maestro yang melahirkan karyanya di atas bukit...?
Dengarlah bisik malaikat yang tak pernah surut walau iblis menjerit sengit...
Janganlah melihat purnama yg merengut, tapi lihatlah senyum pada bulan sabit...
Agar nyali tak menciut, agar jiwa tak terhimpit...
Karena putih selalu ingin menurut, namun hitam terlalu mudah menyerah kepada sulit...
Mungkin hidup memang tak pernah jauh dari maut...
Namun hidup juga tak pernah terlalu dekat dengan rumit...
Kiranya manusia tak membiarkan lembut pada hatinya direnggut...
Kiranya akal manusia tidak sempit, tentulah air matanya tidak akan terasa pahit...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar