Mataku nyalang, memandang nanar jiwaku yang liar...
Liar, seliar tarian perempuan jalang di atas ranjang usang...
Otakku yang lapar mengerang sumbang muntahkan lahar cemar...
Cemar yang mengotori ruang tenang yang telah lama hilang...
Buang jauh, lemparkan di antara ratusan bintang...
Kosongkan, enyahkan, hitamkan angan sehitam langit malam...
Hanya dalam hitam tak terlihat bayang...
Hanya dalam hitam tersembunyi muram...
Mengapa tak pernah terbuang...?
Mengapa selalu kembali datang...?
Aku ingin tenang...
Aku hanya ingin tenang...
Darah pecundang tak akan pernah menetes di ujung pedang musuhnya...
Mayat pecundang tak akan pernah ditemukan tergolek di medan perang...
Karena pecundang memilih mati dalam rumahnya...
Karena pecundang tak pernah pergi berperang...
Aku tak butuh menang, tapi janganlah jadikan aku pecundang...
Biarlah aku mati dalam perang jika itulah tenang...
Karena aku hanya ingin tenang...
Ingin tenang....
BOLEHKAH....?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar